Minggu, 31 Maret 2013

Tulisan Perekonomian Indonesia ke 2


 

Disusun oleh

Anggi Ambarsari       “20212902"
Kelas : 1EB20


JUDUL : Mahasiswa Tonggak Pengembang Ekonomi Kreatif

PENDAHULUAN

Untuk mencetak tenaga-tenaga kerja yang ahli dan terampil sehingga mampu berwirausaha. Tidak terlalu sulit membuka usaha mandiri, jika pemuda Jakarta memiliki bekal pengetahuan dan keterampilan cukup di bidang tertentu. Mahasiswa termasuk aset sumber daya manusia yang mampu mendirikan usaha ekonomi kreatif secara mandiri. Karena telah dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan yang cukup.
Selain dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan, sambungnya, talenta lain yang perlu diperkuat dan dikembangkan yakni kerja keras, pantang menyerah, kemauan yang kuat, konsisten memanfaatkan peluang, dan semangat wirausaha. Dengan memiliki semuanya itu, mahasiswa pasti mampu mengembangkan kreativitas pada cabang-cabang ekonomi kreatif. Membuka usaha mandiri dan menyerap tenaga kerja. Otomatis mahasiswa dapat mengurangi jumlah pengangguran di Jakarta


  

Mahasiswa Tonggak Pengembang Ekonomi Kreatif

Semakin tingginya persaingan memperoleh pekerjaan di kota-kota besar seperti Jakarta, tak hanya menuntut kaum muda memiliki keterampilan yang cakap agar mampu bersaing dengan para pencari kerja lainnya. Pemuda, juga dituntut harus mampu mengembangkan kreativitasnya dengan menciptakan usaha-usaha ekonomi kreatif. Dengan begitu, diharapkan dapat menciptakan lapangan kerja baru serta mampu menyerap tenaga kerja sehingga turut membantu program pemerintah dalam mengurangi angka pengangguran. Contoh di Kota Bandung, sebagai kota yang dihuni 60 persen kalangan muda di bawah 40 tahun dan tempat berkembangnya perguruan tinggi, industri kreatif tumbuh pesat. Hal ini merupakan potensi besar bagi perkembangan industri kreatif di Jawa Barat. Apalagi sektor industri kreatif menyumbang 7,8 persen Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Penting kiranya mendorong kemampuan masyarakat terutama kalangan muda yang lebih kreatif agar mampu berkreasi dan menjadi bagian dari sektor industri kreatif. Maka, hal yang penting diperhatikan untuk mendorong tumbuhnya budaya kreatif. Pertama, pemanfaatan internet dan saluran informasi (information tool) untuk dapat memetik dan mempelajari kreativitas dunia. Kedua, menciptakan pasar domestik dan pasar ekspor yang menyerap berbagai produk kreatif ini. Ketiga, dengan cara menggandeng komunitas kreatif.

Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Taufik Yudi Mulyanto, mengatakan, dengan keberadaan empat perguruan tinggi negeri (PTN) dan 317 perguruan tinggi swasta (PTS) di ibu kota, mendorong Pemprov DKI Jakarta menempatkan pembangunan pendidikan pada skala prioritas utama. Buktinya, lebih dari 20 persen total anggaran pendapatan belanja dan daerah (APBD) DKI Jakarta dialokasikan untuk kegiatan pendidikan. Artinya, dari total APBD DKI 2010 sebesar Rp 26,71 triliun, maka alokasi anggaran pendidikan di Jakarta mencapai sekitar Rp 5,34 triliun.

Dana sebesar itu, sebagian besarnya dialokasi untuk mengisi kebutuhan tenaga terampil menengah dengan memberikan dukungan penguatan dan peningkatan mutu sekolah menengah kejuruan (SMK). Selain itu, Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) DKI Jakarta juga telah menyediakan sejumlah balai latihan kerja (BLK) dalam berbagai bidang keterampilan (tukang, montir, pramuwisata dan lain-lain). Mereka disiapkan untuk menggerakkan berbagai lapangan usaha ekonomi kreatif secara mandiri.



Semua itu dilakukan untuk mencetak tenaga-tenaga kerja yang ahli dan terampil sehingga mampu berwirausaha. Menurutnya, tidak terlalu sulit membuka usaha mandiri, jika pemuda Jakarta memiliki bekal pengetahuan dan keterampilan cukup di bidang tertentu. “Mahasiswa termasuk aset sumber daya manusia yang mampu mendirikan usaha ekonomi kreatif secara mandiri. Karena telah dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan yang cukup,” ujar Taufik Yudi di sela-sela kegiatan Silaturahmi BEM/UKM se-Jakarta dengan Muspida Provinsi DKI Jakarta di Balai Agung, Balaikota, Rabu (29/9). 

Kegiatan ini, dikatakan Taufik Yudi, diadakan untuk mendiskusikan tentang penguatan entrepreneurship di kalangan mahasiswa. Dalam acara itu, dirinya mempresentasikan makalah tentang “Kebijakan pengembangan sumber daya manusia dalam pembangunan di Provinsi DKI Jakarta”.

Selain dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan, sambungnya, talenta lain yang perlu diperkuat dan dikembangkan yakni kerja keras, pantang menyerah, kemauan yang kuat, konsisten memanfaatkan peluang, dan semangat wirausaha. “Dengan memiliki semuanya itu, mahasiswa pasti mampu mengembangkan kreativitas pada cabang-cabang ekonomi kreatif. Membuka usaha mandiri dan menyerap tenaga kerja. Otomatis mahasiswa dapat mengurangi jumlah pengangguran di Jakarta,” ujarnya.

Berdasarkan data Disnakertrans DKI Jakarta, dari 4.687.730 angkatan kerja di DKI Jakarta, saat ini yang bekerja tercatat sebanyak 4.118.390 tenaga kerja. Ini berarti masih terdapat 569.340 atau 12,15% yang tidak terserap (tidak bekerja).




PENUTUP

Mahasiswa dikatakan mampu menjadi tonggak pengembangan ekonomi kreatif karena karena selain memiliki pengetahuan dan bekal yang cukup kaum muda adalah kaum yang paling kreatif dan juga inovatif karena pada usia tersebut meraka banyak melalukan eksperimen dan ingen mencoba sesuatu yang berbeda. Jika mereka terus dibimbing dan dibekali semangat kerja keras, pantang menyerah, kemauan yang kuat, konsisten memanfaatkan peluang, dan semangat wirausaha. Dengan memiliki semuanya itu, mahasiswa pasti mampu mengembangkan kreativitas pada cabang-cabang ekonomi kreatif. Membuka usaha mandiri dan menyerap tenaga kerja.






DAFTAR PUSTAKA


beritajakarta.com


http://ekonomi-kreatif.blogspot.com/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar